Perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) mulai dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk bidang pertanian. Sebagai bentuk penerapan teknologi digital di bidang pertanian, Telkom University berkolaborasi dengan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dalam merancang sistem smart farming berbasis IoT yang difokuskan pada monitoring awal kondisi tanah, khususnya pada budidaya tanaman cabai di Desa Ulidang, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Pengembangan sistem ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung transformasi digital pada sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi monitoring berbasis sensor.
Tim pengusul dari Telkom University berasal dari Fakultas Teknik Elektro (FTE), Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi, yang diketuai oleh Bapak Dharu Arseno, S.T., M.T. dengan anggota tim Ibu Aminah Indahsari Marsuki, S.T., M.T. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa sebagai tim pendukung pelaksanaan proyek, yaitu Muhammad Rizki Akbar, A. Kiflan Jiyaad Mafazi, dan Dinni Indriyana Hanati. Dalam pelaksanaannya, Telkom University berperan dalam pengembangan konsep sistem, penyediaan prototype alat smart farming, integrasi perangkat IoT, serta pengembangan sistem monitoring digital.
Sementara itu, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) berperan sebagai mitra kolaborator utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan menyediakan dan mengoordinasikan masyarakat sasaran, yaitu kelompok petani di Desa Ulidang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Peran Unsulbar mencakup fasilitasi komunikasi dengan pemerintah desa dan kelompok tani, dukungan pelaksanaan survei kebutuhan lapangan, pendampingan selama proses instalasi teknologi tepat guna, hingga penyelenggaraan sosialisasi dan pelatihan kepada petani agar mampu mengoperasikan sistem smart farming berbasis IoT secara mandiri. Melalui kolaborasi antara Telkom University dan Unsulbar, implementasi teknologi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat, tetapi juga pada proses transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan keberlanjutan program smart farming di Kabupaten Majene. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat.
Proyek smart farming ini bertujuan untuk membantu proses pemantauan kondisi lingkungan tanah secara real-time melalui beberapa parameter dasar, seperti kelembaban tanah, suhu udara, dan kelembaban udara. Informasi yang diperoleh nantinya dapat digunakan sebagai data awal dalam proses budidaya tanaman cabai agar kondisi lahan dapat dipantau secara lebih akurat dan terukur. Smart farming yang dikembangkan pada tahap ini masih difokuskan pada inisialisasi awal, yaitu monitoring kondisi tanah sebagai langkah awal implementasi teknologi IoT pada sektor pertanian.
Dalam pengembangannya, sistem menggunakan dua sensor utama, yaitu sensor RS485 7 in 1 dan sensor DHT22. Sensor RS485 7 in 1 digunakan untuk membaca beberapa parameter tanah secara terintegrasi, seperti kelembaban tanah, suhu tanah, pH tanah, konduktivitas listrik (Electrical Conductivity/EC), serta parameter pendukung lainnya yang berkaitan dengan kondisi lahan pertanian. Sementara itu, sensor DHT22 digunakan untuk memantau suhu udara dan kelembaban udara di sekitar area pertanian. Kombinasi kedua sensor tersebut diharapkan mampu memberikan data monitoring lingkungan yang lebih lengkap sebagai dasar pengamatan kondisi lahan tanaman cabai. Data hasil pembacaan sensor nantinya akan dikirim dan ditampilkan melalui platform monitoring digital sehingga petani dapat memantau kondisi lahan secara real-time melalui perangkat smartphone. Sistem monitoring ini juga menjadi salah satu bentuk implementasi teknologi IoT yang dapat membantu proses digitalisasi pertanian secara bertahap, khususnya pada tahap pengumpulan data awal kondisi lahan pertanian.
Dalam proses pengembangannya, tim melakukan diskusi dan monitoring evaluasi guna memastikan sistem yang dirancang dapat berjalan sesuai kebutuhan proyek. Kegiatan diskusi dilakukan untuk membahas pengembangan perangkat, integrasi sistem monitoring, pengolahan data sensor, serta penyusunan media edukasi dan publikasi proyek sebagai bentuk dokumentasi kegiatan pengembangan smart farming berbasis IoT.

Sebagai tahap awal implementasi, tim dari Telkom University juga menyediakan prototype alat smart farming yang dirancang untuk mengintegrasikan sensor monitoring dengan sistem pengiriman data secara real-time. Prototype tersebut menjadi media utama dalam proses pengujian pembacaan parameter lingkungan sehingga data kondisi lahan dapat dipantau secara langsung dan terukur. Prototype alat yang digunakan dalam pengembangan sistem smart farming dapat dilihat pada gambar berikut.

Melalui pengembangan smart farming berbasis IoT ini, diharapkan teknologi digital dapat mulai diterapkan secara bertahap pada sektor pertanian di Kabupaten Majene. Selain menjadi bentuk implementasi teknologi, proyek ini juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan IoT dalam monitoring kondisi lahan pertanian secara lebih modern, praktis, dan informatif.
